Rabu, 22 September 2010

DIMENSI-DIMENSI HAKEKAT MANUSIA




1.      Dimensi keindividuan
Lysen mengartikan individu sebagai “orang seorang”,sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi.Manusia dilahirkan kedunia ini dengan keunikan sendiri-sendiri.Walaupun berasil dari satu telur manusia masih tetap berbeda satu dan lainnya.Sehingga mereka tidak ada duanya.Dan manusia dilahirkan dengan potensinya masing-masing.Perbedaan itu meliputi cara berfikir,prilaku,kesukaan, perasaan ,kerohaniannya dan sebagainya.kecendrungan akan perbedaan ini sudah mulai tumbuh sejak seorang anak menolak ajakan ibunya pada masa kanak-kanak.
 Secara tidak langsung manusia memiliki tanggung jawab masing-masing atas semua yang ada pada dirinya.Kita takan rela bila bila tanggung jawab itu diberikan kapada orang lain.Tanggung jawab itu meliputi tanggung jawab atas pikiran,perasaan,pilihan,dan prilaku kita.Apakah kita rila,kalau perasaan kita kita tanggung jawabkan pada orang lain.Tentu tidakan?Itulah bukti kalau kita memiliki tanggung jawab atas diri kita sendiri. Kesangupan memikul tanggung jawab sendiri merupakan ciri yang sangat esensial dari adanya individualitas pada manusia.
Langeveld(1979:38)mengatakan bahwa anak didik adalah seseorang yang ingin  menjadi seorang pribadi,ingin pribadinya sendiri. Dengan kata lain kepribadian seseorang tidak akan terbentuk dengan semestinya sehingga seseorang tidak memiliki warna kepribadian yang khas sebagai miliknya.jika terjadi hal demikian,seseorang tidak memiliki kepribadian serta mudah terbawa arus.sehinga seorang anak harus mendapatkan didikan dari orang di sekelilingnya ,selain itu anak akan belajar dari alam sekelilingnya.Ada dua pendidikan yang diterima oleh anak,yaitu pendidikan sengaja dan pendidikan yang tak sengaja.Dalam pendidikan sengaja ini pendidik harus berhati-hati serta tidak memaksa karena prinsipnya kepribadian dibentuk oleh dirinya sendiri.prinsip inilah yang membentuk pendidikan tidak sengaja itu,serta memimpin dan mengembangkan apa yang ada pada dirinya.tugas pendidik adalah menunjukan jalan dan mendorong subjek didik bagaimana cara memperoleh sesuatu dalam mengembangkan diri.


2.      Dimensi Kesosialan
Manusia tidak dapat hidup sendiri di bumi ini,kita membutuhkan orang lain.contohnya pada anak bayi yang baru dilahirkan,bayi tersebut membutuhkan pertolongan orang lain,bukan sampai di situ saja, Bahkan ke anak-anak,remaja,dewasa dan di sisa-sisa hidupnya juga memerlukan orang lain.selain itu juga,orang lain juga memerlukan kita juga sebagai timbale-balik.Oleh sebab itu manusia merupakan makhluk sosial.Anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan manusia.Mereka berkembang karena dari dan ke dalam masyarakat.manusia adalah makhluk sosial sekaligus makhluk individu.Karena manusia makhluk kedua-duanya hendaknya manusia mempertahankan individunya secara utuh.
Adanya dimensi kesosialan pada diri manusia tampak lebih jelas pada dorongan untuk bergaul.dengan adanya dorongan untuk bergaul,setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya.betapa kuat dorongan tersebut sehingga dipenjarakan merupakan hukuman yang paling berat di rasakan oleh manusia, karena diasingkan dalam penjara berarti diputuskanya dorongan untuk bergaul tersebut secara mutlak.
Kilpatrick (1957: 37) mengemukakan,bahwa untuk hidup dalam artian yang benar-benar manusiawi,setiap orang harus hidup dengan orang-orang lain.keakuan manusia betul-betul banyak bergantung pada kontribusi- kontribusi esensial dari orang-orang lain.manusia membutuhkan untuk pertumbuhan yang baik,hasil-hasil dari pengalaman manusia sebelumnya.Jadi untuk  membimbing pertumbuhan anak manusia kepada keungulan insani’yang di perlukan untuk juga menjamin kemajuan masyarakat,mereka memerlukan pendidikan.
Untuk tumbuh dan berkembang secara wajar dan hasil sebagai angota kelompok sosial anak manusia memerlukan pendidikan.Tujuan pendidikan disini adalah membantu perkembangan sosial dari anak,agar mendapat tempat ,menyesuaikan diri,serta mampu berperan sebagai anggota yang cakap bersama dan kontruktif dalam masyarakat.


3.      Dimensi Kesusilaan
Susila berasal dari kata su + sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi atau kebaikan yang lebih.dalam bahasa ilmiah sering di gunakan kata yang memiliki konotasi yang berbeda yaitu etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika(persoalan kebaikan).Pada hakekatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila,serta melaksanakannya sehingga  dikatakan manusia itu adalah mahluk sosial.
Drijarkar(1978:36-39) nilai-nilai merupakan yang dijunjung tinggi oleh manusia ,kemuliaan dst,sehingga oleh karena itu penjeja di yakini dan di jadikan pedoman dalam hidup.nilai-nilai itu dibedakan atas tiga nilai otonom yang bersifat individual(kebaikan menurut pendapat seseorang),nilai heteronom yang bersifat kolektif(kebaikan menurut kelompok)dan nilai keagamaan yaitu nilai yang berasal dari tuhan.Yang terakhir ini merupakan suber dari segenap yang lain..Tuhan adalah alpha dan omega (pemula dan tujuan akhir).
Selanjutnya dalam kenyataan hidup ada dua hal yang muncul akabat persoalan nilai,yaitu kesadaran dan pemahaman  terhadap nilai dan kesanggupan melaksanakan nilai.Dan idealnya harus sinkron antar keduanya.Tetapi dalam pelaksanaanya tidak selalu demikian dan tidak secara otomatis orang yang telah memahami pasti melaksanakannya.Lazimnya penilaian masyarakat terhadap kualitas kesusilaan seseorang tergantung dari apa yang di buatnya,dan tidak semata-mata pada apa niatnya, sehingga niat buruknya belum terlakukan (jika diketahui)sering masih di maafkan.
Dengan demikian pendidikan kesusilaan meliputi rentang yang luas pengarapannya mulai ranah kognetif yaitu dari mengetahui sampai kepada menginternalisasi nilai,sampai kepada ranah afektif dari meyakini,meniati sampai kepada siap sedia untuk melakukan.implikasi paedagogisnya adalah bahwa pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesadaran dan kesediaan melakukan kewajiban disamping hak pada peserta didik.dengan pendidikan ini anak akan mengetahui mana yang salas dan mana yang benar,baik dan buruk,Pantas dan tidak pantas.sesungguhnya pendidikan ini adalah usaha membantu anak dalam menajamkan kata hatinya.


4.      Dimensi Beragama
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk religious.di Indonesia dulu sebelum datangnya agama,nenek moyang kita sudah melakukan ritual menyembah yang maha kuasa.Karena ketidak tahuannya nenek moyang kita melakukan ritual dengan menyembah benda-benda yang dianggapnya mengandung kekuatan mistik,seperti batu-batu pohon-pohan besar dsb.Hal itu dapat kita ketahui dengan adanya peninggalan-peningalan tempat-tempat untuk melakukan ritual. Seperti tugu batu keris dsb.Setelah agama datang yaitu agama tertua yaitu budha dan hindu penduduk Indonesia mulai menyembah dewa-dewa.Tetapi masih mengandung unsur menyembah batu-batu besar.selanjutya agama yang mengesakan tuhan datang.Barulah masyarakat Indonesia menerima kalau tuhan itu satu yaitu ALLAH SWT.Dan meninggalkan paham politeisme,Walaupun masih banyak lagi masyarakat yang masih begitu.Manusia membutuhkan dimensi itu karena manusia makhluk lemah.dan agama adalah penyelamat hidup di dunia dan akhirat.Dapat dikatakan bahwa agama menjadi sandaran vertikalmanusia.Ph.Kohnstamm berpendapat bahwa pendidikan agama seyogyanya menjadi tugas orang tua.Dalam hal ini orang tua lah yang cocok untuk mendidik anak karena ada hubungan darah.pendidikan ini penting,kerena akan membentuk moral dari sianak yang kelak penerus Negara ini.



PENGEMBANGAN DIMENSI-DIMENSI KEMANUSIAAN MANUSIA INDONESIA SEUTHNYA

Sasaran pendidikan adalah manusia,sehingga dengan sendirinya perkembangan dimensi hakekat manusia tugas pendidik.Meskipun pendidikan itu pada dasarnya baik,tetapi dalam pelaksanaannya mungkin saja biasa terjadi kesalahan-kesalahan yang lazim nya di sebut salah didik.hal demikian dapat terjadi karena pendidik itu adalah manusia biasa,yang tidak luput dari kelemahan-kelemahan.Ssehubungan dengan itu ada dua kemungkinan yang bias terjadi yaitu:
1.      perkembangan yang utuh dan
2.      prkembangan yangtidak utuh.


1.      Pengembangan yang Utuh
Tingkat keutuhan perkembangan dimensi hakekat manusia ditentukan dua faktor yaitu bagai mana kualitas dimensi hakekat manusia secara potensial  dan yang kedua bagai mana kualitas pendidik yang di sediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya.Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang sanggup menghantar subjek didik menjadi seperti dirinya sendiri selaku anggota masyarakat.
a.       Dari segi wujud dimensi,keutuhan terjadi antara aspek jasmani dan rohani,antara dimensi keindividualan kesosialan-kesusilaan dan –keberagamaan antara aspek kognitif-afektif dan –pisikomotor.
Perkembangan  aspek jasmani dan rohani di katakan utuh jika keduanya mendapat pelayanan yang seimbang.Perkembangan dimensi keindividualan ,sosial,kesusilaan dan keberagaman dikatakan utuh jika mendapatkan pelayanan yang seimbang dan baik bagitu pula dengan perkambangan domain kognitif,afektif dan pisikomotorseperti itu.
b.      Dari Arah Perkembangan
Pengembangan yang sehat terhadap dimensi keindividualan memberi peluang pada seseorang untuk mengadakan ekplorasi terhadap potensi-potensi yang ada pada diri baik kekurangan maupun kelebihanya.Perkembangan yang berarah konsentris ini bermakna memperbaiki diri atau meningkatkan martabat auk yang sekaligus juga membuka jalan kearah bertemunya suatu pribadi dengan pribadi yang lain secara laras tanpa menggangu otonomi masing-masing.begitu juga dengan pengembangan dimensi-dimensi lain.
Pengembangan yang sehat terhadap dimensi keberagamaan akan memberikan landasan dari arah pada pengembangan dimensi keindividuan,kesosialan dan kesusilaan.Yang dimaksut arah pengembangan dari jenjang rendah ke jenjang yang tinggi(vertical).
Dapat disimpulkan bahwa pengembangan dimensi hakekat manusia yang utuh diartikan sebagai pembinaan terpadu terhadap hakekat manusia sehinga dapat tumbuh dan berkembang secara laras.

2.      Pengembangaan yang Tidak Utuh
Pengembangaan yang tidak utuh terhadap dimensi hakekat manusia akan terjadi apabila dalam proses pengembangan ada hunsur D.H.M yang terabaikan untuk ditangani. pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya  kepribadia yang pincang dan tidak mantap.pengembangan semacam ini merupakan pengembangan yang patologis

0 komentar:

Poskan Komentar